SEJARAH SINGA GEWEH, SINGA KARTI DAN SINGA GEMBARA

Keberadaan Sangatta sebagai bagian dari Kabupaten Kutai Kartenegara tidak terasa lagi. Sejak tahun 1999 wilayah yang dahulu merupakan wilayah Bengalon termasuk penguasa wilayah sungai Sangatta sudah menjadi wilayah Kabupaten Kutai Timur, Namun demikian, kekuatan sebagai bagian dari Kerajaan Kutai Kartanegara masih juga diingat dan menjadi kekuatan jiwa masyarakatnya. Seperti nama Singa Geweh, Singa Karti dan Singa Gembara masih sangat melekat pada masyarakat lokal Sangatta.

Singa Geweh, Singa Karti dan Singa Gembara adalah orang kepercayaan Sultan Kutai Kartanegara. Mereka ini mengorbankan dirinya menjadi makhluk gaib berwujud singa, Raja Kutai memberikan mereka mandat kepada “makhluk gaib ” ini untuk selamanya menjaga hutan di wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara. Bagi orang-orang yang akan ke hutan sebelumnya harus membaca mantera khusus, dengan membaca mantera tersebut maka ”  SANG SINGA ” tersebut tahu bahwa yang masuk ke hutan tersebut adalah masih keturunan raja dan tidak akan mengganggunya.

Seperti dijelaskan diawal SEJARAH BENGALON, wilayah Bengalon merupakan wilayah khusus bagi Kerajaan Kutai Kartanegara, wilayahnya mencakup daerah antara sungai Sangatta di bagian Selatan dan sungai Kaliorang di sisi utara. Wilayah sungai Sangatta menjadi “wilayah lain” dan dikelola oleh Ketua Adat yang ditunjuk  oleh Sultan Kutai Kartanegara. Berdasarkan sejarah,  tercatat nana-nama Kepala Adat di wilayah Sangatta, antara lain :

  1. Gembara ( 1678 – 1709 )
  2. Djanti ( 1709 – 1721 )
  3. Singa Tua ( 1721 – 1737 )
  4. Singa Geweh ( 1737 – 1`751 )
  5. Singa Muda ( 1751 – 1781 )
  6. Macan ( 1781 – 1801 )
  7. Karti ( 1801 – 1830 )
  8. Tali ( 1830 – 1842 )
  9. Bungul ( 1842 – 1855 )
  10. Sampai ( 1855 – 1901 )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *