SEJARAH SANGATTA DI MASA LAMPAU

SANGATTA DI MASA LAMPAU

Telah kita ketahui bahwa Kota Sengata adalah ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Kutai Timur yang merupakan salah satu dari daerah pemekaran dari kabupaten Kutai tahun 1999.

Orang-orang Sengata awalnya berasal dari orang-orang pantun yang bertempat tinggal di Hulu sungai Sengata yaitu di Sengata Kepet atau Selayar.

Untuk mengetahui tempat itu ada suatu tanda yang pernah didiami oleh orang Sengata dahulu yaitu berupa sebuah tangga behek namanya yang sampai sekarang ini masih bisa kita lihat, yang pada waktu itu dipimpin oleh seorang Kepala Adat yang namanya Gembarayang diangkat sebagai Kepala Adat pada tahun 1678 dan pada tahun 1709 Kepala Adat Gembara diganti oleh Kepala Adat yang baru yang bernama Djanti.

Sewaktu Kepala Adat Gembara diganti oleh Kepala Adat Djanti, dimana saat itu Djanti menguasai benua Sangatta Kepet yang orang-orangnya masih menganut agama yang menyembah patung atau masih percaya dengan orang-orang desa yang mempunyai kesaktian.

Waktu itu bilamana ada orang yang mati atau meninggal dunia diwaktu siang hari, ia dapat dihidupkan kembali dan bilamana pada malam hari tidak dapat dihidupkan lagi, karena sudah ada perjanjian denga roh-roh sakti dikayangan, Kepala Adat Gembara dan Djanti waktu itu masih dekat orang-orang kayangan sakti.

Dengan demikian pada waktu itu terjadi suatu percobaan dari Yang Maha Kuasa, dimana anak dari kepala adat Djanti mati / meninggal dunia dimalam hari maka dengan terpaksa karena Djanti sayang dengan anaknya dan lagipula anak itu perempuan maka Djanti berusaha untuk menghidupkannya dan ternyata berhasil, dengan demikian kepala adat gembara dan Djanti telah melanggar sumpah dan perjanjian dengan orang-orang dewa sakti di kayangan. Padahal sewaktu kepala adat Gembara dan Djanti yang masih menguasai benua sengata kepet atau benua selayar mereka masih taat atau bertuhan kepada dewa – dewa. Maka dengan terjadinya pelanggaran sumpah dan janji tersebut,hilanglah kekuasaanya. . Dengan demikian maka diserahkanlah tahtanya kepada Singa Tua, untuk menjadi Kepala Adat selanjutnya dibenua Sengata Kepet / benua selayar.

Wilayah Kekuasaan Kepala Adat Singa Tua adalah dari benua Sengata Kepet sampai dengan Tunggur Butuh, dimana letak tunggur butuh adalah disebelah kiri mudik sungai sengata .

Tunggur butuh tersebut dibuat dari kayu ulin untuk menjadi perbatasan dari sangatta kepet, dan letaknya dikiri mudik sungai sangatta.

Pada tahun 1721 terjadi pergantian kepala adat karena sakit dan digantikan oleh kepala adat Singa Tua dan sengata kepet ditinggalkan. Dan dibuat suatu kesepakatan dimana kepala adat membuat suatu tanda sebagai untuk disembah kepada dewa setiap waktu, dimana tunggur butuh tersebut terdiri dari kayu ulin yang tingginya kurang lebih 5 meter dan lebarnya kurang lebih 60 cm, didalam ulin tersebut ada sebuah guci besar dengan berukir seekor naga bersulai, dan tunggur tersebut mempunyai ukiran binatang-binatang yang ada didunia ini.

Tunggur Butuh ini terletak disebelah kiri mudik sungai sengata, yang menandakan tempat asal benua sangatta yang sangat ramai, sesudah benua sengata kepet ditinggalkan oleh kepala adat yang dulu, sehingga perpindahan ini masih dipimpin oleh kepala adat Singa Tua .

Kepala Adat Singa Tua mempunyai anak masing-masing :

  1. Singa Geweh : Dan menikah mempunyai anak laki-laki yang bernama TALI
  2. Nung Bakung : Anak Singa Tua yang perempuan ini tidak bisa berkelanjutan karena sewaktu berlayar dan sampai dimuara sangatta lalu menghilang / gaib dan sampai sekarang tanda tempat menghilang tersebut masih ada dimuara sungai sengata.
  3. Singa Muda : Anak laki-laki mempunyai anak 5 orang yaitu : KARTI, SENGKAR,SINAM, KACUP, dan KATIN

Setelah 16 tahun Singa Tua menjadi kepala Adat maka pada tahun 1737 terjadilah pergantian Kepala Adat yang baru yaitu anaknya sendiri yang bernamaSinga Geweh. Kepala adat Singa Geweh ini mengatur masyarakatnya dengan aman dan tentram dan lama kelamaan benua tersebut ditinggalkan karena ada terjadinya peperangan dengan orang-orang Dayak dari Hulu Mahakam, dan tidak dapat ditahankan oleh karena kurang peralatan dan akhirnya kepala Adat Singa Geweh mengajak masyarakatnya untuk pindah kesuatu tempat yaitu di Benua Muda.

Sesudah berpuluh tahun di Benua Muda tersebut, ada suatu percobaan dari Yang Maha Kuasa yaitu terjadinya kemarau panjang, dimana sungai Sengata sampai tidak ada lagi airnya, yang ada hanya airnya dicelah-celah yang agak rendah tanahnya.

Dalam hal ini masyarakat di ajak untuk pindah lagi oleh kepala adatnya yaitu menuju suatu benua yang ada airnya yaitu di Benua Belahu Geruci, sehingga masyarakat mudik menuju tempat tersebut dan berkumpullah masyarakat di Benua Belahu Geruci, dimana masyarakat pada waktu cukup berkembang dan bertambahnya penduduk, walaupun air tidak mencukupi, yang akhirnya oleh kepala adatt terpikir untuk membagikan air yang cukup sulit itu kepada masyarakatnya, yang diambil masing-masing ditempat :

  1. Di Belahu Geruci yang dinamakan Teluk Besar.
  2. Peler Sayus yang merupakan suatu rantau.
  3. Batu Wa’Ali yang merupakan tanda tempat duduk.
  4. Tangga Adji yang merupakan tempat naik raja.

Daerah – daerah inilah yang termasuk dari kekuasaan Kepala Adat Singa Geweh.

Keterangan :

Peler Sayus : adalah sebuah benda yang terdiri dari sebuah batu yang berbekas seperti (maaf) peler ini terjadi sewaktu sayus sedang duduk memncing ikan

Batu Wa’ Ali : adalah tanda suatu perlawanan yang hebat dari orang-orang dayak yang banyaknya kurang lebih 400 orang, dan perlawanan sengit terjadi yang dipimpin oleh Wa’ Ali dan terjadi pertumpahan darah, dimana banyaknya orang – orang meninggal sehingga darahnya mengalir ketepi sungai mengenai batu-batu tersebut , sehingga sampai sekarang batu-batu didaerah itu agak kemerah merahan.

Tangga Adji : Adalah suatu tempat yang digunakan oleh Keluarga Raja Kutai dari Tenggarong, untuk naik dan turun menuju Sungai Bengalon, suatu sungai tempat peristirahatan para keluarga Kutai (asal kata Bungalow), dimana diatas tangga –tangga tersebut bertuliskan dengan bahasa orang Bajau Tidung yang berkata sebuah pantun : “ Batu Adji ilas berukir, ukiran anak si Raja Tidung.

Sesudah beberapa lamanya bertempat tinggal ditempat itu yaitu di Belahu Geruci, kebatu wa’Ali sampai ke Benua asal sewaktu musim bertemu dengan orang-orang Cina Lama yang banyak membawa berupa Guci, piring, mangkok, sendok dll dan perkembangan di Benua Muda terus bertambah penduduknya dan datanglah suatu percobaan dari Yang Maha Kausa yaitu terjadi banjir desar yang melanda Kampung tersebut dan oleh Kepala Adat diperintahkan kepada penduduk untuk mencari suatu tempat yang lebih tinggi, selama banjir tersebut rumah penduduk berhancuran dan selain itu datang pula serangan dari orang dayak namun serangan itu gagal dan banyak orang-orang Dayak tersebut mati terdampar disuatu tempat yang dinamakan Rapak Malindun ( sekarang masih ada ), untuk mencari tempat yang tinggi dan aman maka mereka segera pergi kehilir dan berlabuh di keham keham yang cukup tinggi dan untuk menyelamatkan diri dari serangan banjir dan penyerangan orang Dayak, maka banyak keham-keham yang disinggahi antara lain :

Keham Segelap : adalah dimana dikeham tersebut cahaya matahari tidak tampak dan sangat gelap.

Keham Batu Apat : adalah suatu keham tempat persembunyian orang-orang dan bahasa Sengata menyebutkan bahwa orang Dayak tidak dapat melakukan serangan.

Keham Batu Buam : adalah suatu tempat dimana orang Dayak tidak bisa mengepung dan buntu serangan.

  1. Keham Sambut Tangan : adalah suatu keham yang untuk menuju tempat tersebut harus bergantian dan saling sambut tangan.
  2. Keham Batu Rumah : adalah suatu keham yang besar seperti rumah dan tempat perlindungan orang-orang dalam pelarian.
  3. Keham Batu : adalah keham tempat orang-orang bersukat kemaluan yang panjang artinya siapa kemaluannya yang panjang berarti dia berani melawan orang-orang Dayak.
  4. Keham Deras Kelawit : adalah keham besar dan airnya cukup deras dan kuat.
  5. Keham Segimbal : adalah keham ditepi sebuah kampung dan ada sebuah batu seperti kambing / gimbal dan sewaktu Erauterjadi batu tersebut di sambar petir.
  6. Aor Wa’ Alok : adalah bekas kampung yang saat ini masih ada suatu peninggalan utamanya tempat masyarakat menyembah berhala / patung.

Pada tahun 1751 terjadilah pergantian Kepala Adat Singa Geweh kepada Saudaranya Singa Muda, dimana Singa Muda ini berpuluh-puluh tahun mengatur rakyatnya dangan baik , kemudian Kampung dipindahkan lagi kesuatu tempat yang dianggap lebih baik lagi yaitu di Benua Bendili, setelah beberapa tahun menempati Benua Bendili, Kepala Adat diganti lagi karena sesuatu hal yang dianggap oleh rakyatnya tidak memuaskan dan terjadilah pergantian pada tahun 1781 dengan Kepala Adat Macan ( yang dianggap terkuat di kampung tersebut).

Beberapa tahun mendiami Benua Bendili, maka terjadilah perpindahan lagi dan menempati suatu tempat yang diberi nama Benua Melawan yang berada dikiri mudik sungai sengata.

Waktu Benua Melawan dipimpin oleh Kepala Adat Macan disinilah tugas Kepala Adat bertahan dari serangan orang-orang suku Dayak dan mengadakan perlawanan yang dahsyat beserta rakyatnya, dengan semboyan oleh Kepala Adatnya sampai tumpah darah yang penghabisan kami tetap melawan , akhirnya berkat kekuatan dan kekompakan dengan rakyatnya, maka ,Kepala Adat Macan berhasil mempertahankan Benua Melawan dari serangan orang-orang Dayak sehingga sampai saat ini tertinggal sebuah nama sungai melawan, dan mayat-mayat dari orang Dayak banyak yang terdampar di sebuah sungai kecil yaitu sungai Loah Empang (dalam bahasa daerah sengata artinya terdampar/terpampang), dengan kemenangan tersebut dimana Kepala Adat Macan memang sudah lama memangku Kepala Adat dan pada tahun 1801 Kepala Adat Macan meninggal dunia dan diganti oleh Kepala Adat yang baru yaitu KARTI, saat itu Karti adalah sebagai orang kedua (wakil) dari Kepala Adat Macan .

Dengan terjadinya pergantian Kepala Adat Macan yang meninggal dunia, dimana beberapa tahun Kepala Adat Karti memimpin rakyatnya , pengaruh dari Kepala Adat yang lama yaitu Macan masih ada , sebab kebanyakan rakyatnya yang bertempat tinggal di melawan masih sayang dengan Kepala Adat macan, karena keberaniannya dan akhirnya kampung terbagi dalam 3 ( tiga ) yaitu keluarga Macan memimpin diseberang kiri sungai melawan, dan sungai Loah Empang seberang kiri mudik juga dibawah keluarga macan, sedangkan dikampung Benua Kepung dan Sidung dikepalai oleh Kepala Adat Karti.

Sungai Sidung yang terletak di sebelah kiri sungai Sengata, sewaktu wakil Kepala Adat Karti berkampung di Benua Kepung dan Sidung, setelah beberapa lama datanglah serangan orang-orang Bajak Laut Bajau Tidung, dan orang kampung bersembunyi di sungai Murung yang terletak disebelah kanan sungai Sengata dan rakyat terkurung disana, sebab benua kepung dan Sidung sudah diduduki oleh Bajak Laut atau Bajau Tidung dan Kepala Adat Macan turun tangan disebabkan rakyatnya terkurung tidak bisa keluar, Kepala Adat turun tangan dengan rakyatnya mengepung orang Bajau Tidung, karena disitulah orang Bajau Tidung terkepung oleh serangan dari Kepala Adat Macan.

Untuk memusnahkan orang Bajau Tidung tersebut Kepala Adat meminta bantuan kepada Kepala Adat yang lama yaitu Gembara yang pada waktu itu umur Gembara sudah lebih 100 tahun, tetapi masih mempunyai tenaga yang kuat dan sakti maka oleh Gembara meminta kepada Dewa Sakti, sehingga semua orang Bajau Tidung tertidur dan bekas Kepala Adat Gembara lalu mengiris semua hidung orang-orang Bajau Tidung tersebut, sehingga tempat tersebut terjadilah sebuah danau yang sampai saat ini masih ada yaitu Danau Sidung.

Setelah orang Bajau Tidung sudah tidak ada lagi, maka diaturlah benua tersebut dengan sebaik-baiknya oleh Kepala Adat Karti dan masyarakatnya berhanyut lagi kehilir untuk menuju Benua yang baru lagi yaitu Benua Buntu Bandir dan Behulu Gung, dua benua tersebut diatur sedemikian rupa oleh Kepala Adatnya, dan oleh Kepala adat diadakan suatu sayembara atau perlombaan kampung dan diundang seluruh masyarakat yang ada disekitar kampung Sengata, seluruh bekas Kepala Adat yang masih hidup diundang semua untuk berlomba menyeberang sungai Belahu Gong dengan membawa sebuah gong dengan memegang benjolan gong tersebut, siapa yang menang akan mendapatkan sebuah Guci besar yang berukir naga bersulai, dimana warna guci tsb kekuningan dengan tinggi 160 cm dan guci tsb terdiri dari 2 buah ( laki dan bini ) guci tersebut berasal dari bekas kepala Adat Gembara, oleh karena Gembara kalah dalam perlombaan, terpaksa guci tsb diambil alih oleh Kepala Adat Karti.

Akan tetapi oleh Karti diambil kebijaksanaan guci yang dua buah itu dibagi oleh Karti dengan pembagian yang satu untuk usbah yang laki dan yang satu untuk usbah yang perempuan.

Berhubungan bekas Kepala Adat Gembara malu maka secara sembunyi guci yang untuk usbah perempuan dibawanya lari sampai keutara Sengata yaitu kesebuah kampung di Kecamatan Sangkulirang yaitu Kampung Manubar, sampai saat ini guci yang untuk usbah laki-laki berada di Sangatta dan guci yang untuk usbah perampuan ada di Manubar.( sekarang kec. Sandaran)

Guci untuk usbah laki – laki sampai kini masih berada dirumah Ibugomariah/Embung binti Amir ( Jl. Diponegoro Sengata utara).

Setelah terjadi perlombaan belahu gung, rakyat yang berdiam di kampung Benua Kepung menghilir lagi dan pindah kesebuah kampung yaitu buntu Bandir yang artinya suatu tempat yang orang kampung terdahulu banyak yang mati hampir setiap jam sehingga mayat-mayat tersebut terlambat untuk dikuburkan dan banyak yang busuk ( Bahasa Sengata Buntuk/Bontok ), kematian ini diakibatkan oleh suatu penyakit yang dinamakan penyakit dingin ( mayat bertambah hingga tertimbun ) dan disimpan di bawah pohon besar ( bahasa daerah disimpan dibanernya ).

Lama kelamaan masyarakat banyak berkurang karena banyak yang terkena penyakit dingin dan akhirnya Kepala Adat Karti diganti dengan Kepala Adat yang baru yaitu TALI ini terjadi pada tahun 1830, sejak dipimpin oleh Kepala Adat Tali inilah segala hasil kampung disetorkan / memasukkan uang belasteng ( pajak uang Kepala ) dan uang ini disetorkan ke kerajaan Kutai di Tenggarong. Dengan berkembangnya sengata pada waktu itu maka pada tahun 1830 suatu Perusahaan Minyak Asing Mulai masuk ke sangatta yaitu Perusahaan NKPM bergerak dibidang perminyakan dan yang pertama beroperasi dalam pengeboran yaitu di sungai Melawan, sedangkan sisa-sisa peralatan NKPM yang berupa pipa masih ada di sungai Melawan Sengata.

Penghasilan rakyat pada waktu itu adalah Rotan, Damar, sarang burung dan sirap.

Pada tahun itu Kepala Adat Tali menunaikan ibadah haji dan Kepala Adat di wakili oleh Kepala Adat Bungul, tetapi sampai beberapa tahun Kepala Adat Tali di tunggu kedatangannya juga tidak ada berita, tetapi setelah beberapa tahun beberapa tahun kemudian ada berita bahwa Kepala Adat TALI telah meninggal dunia di Mekkah ( dalam menunaikan ibadah haji ), setelah mendengar hal tersebut maka terjadi pergantian Kepala Adat dimana Wakil Kepala Adat BUNGULdiangkat menjadi Kepala Adat.

Pergantian ini terjadi pada tahun 1842, dengan dipimpin Kepala Adat Bungul, hasil hutan sudah mulai meningkat dan pada waktu itu oleh Sultan Kutai telah menugaskan RADEN BENDAHARA untuk membeli dan memungut cukai hasil hutan.

Tetapi rupanya oleh rakyat di Sengata hasil hutan tersebut dijual secara langsung kepada para pembeli yang masuk ke Sengata, maka Raden Bendahara marah karena setiap ke Sengata untuk mengambil hasil hutan dan cukai selalu hasil hutan itu sudah tidak ada lagi dikarenakan di jual oleh masyarakat ke pedagang lain, akhirnya Raden Bendahara mengeluarkan suatu sumpah kepada orang lain yang berusaha mencari hasil hutan yang katanya : BILAMANA SAYA MEMANG TUTUS RAJA, ATAU KETURUNAN RAJA KUTAI, MAKA 7 (TUJUH) TURUN ORANG-ORANG YANG ADA DI SENGATA TIDAK MENDAPATKAN SELAMAT DAN HASIL HUTAN MUSNAH SELAMA ITU.

Dengan sumpah itu rupanya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa sehingga terjadi suatu musibah kemarau panjang selama 1 (satu) tahun penuh, sehingga semua hasil hutan yang ada di Sengata habis musnah terbakar, dan sampai saat ini sebiji rotanpun tidak ada lagi di Sengata, akibat sumpah dari Raden Bendahara dari Kerajaan Kutai Tenggarong (karena menurut hitungan sampai saat ini baru terjadi 6 (lima) turunan dan masih ada 1 (satu) turunan lagi.

Dan pada tahun 1855 terjadi pergantian Kepala Adat yang baru di pimpin oleh Kepala Adat SAMPAI, dimana Kepala Adat Sampai memimpin dengan baik rakyatnya sehingga usaha yang tidak mungkin ada pada waktu itu diusahakan, karena kita ketahui bahwa dengan adanya sumpah Raden Bendahara tadi, maka rakyat Sengata sudah mulai kehilangan mata pencaharian, dan diusahakan oleh Kepala Adat Sampai supaya ada usaha yang baik, yaitu mencari usaha lain antara lain bertani, mencari ikan dll.

Pada tahun 1901 Kepala Adat Sampai diganti sekaligus pada waktu terjadi pergantian sebutan dari Kepala Adat menjadi Petinggi, yang menjabat pertama menjadi petinggi adalah BIJAK dan pada waktu itu Imam sudah ada, dan dijabat oleh Imam Saong, wakil imam bernamaSendawar. Pada waktu petinggi Bijak memimpin masuk lagi Perusahaan Perminyakan yang bernama Kolnia pada tahun 1903, dan pengeboran dimulai disekitar ST. 1 yang sekarang ini. Belum sampai 2 tahun berjalan Perusahaan tersebut tutup kembali, dimana ini terjadi pada waktu perang dengan sekutu sehingga usaha perminyakan di Sengata sepi kembali.

Pada tahun 1930 telah masuk kembali Perusahaan perminyakan B.P.M ( Batafsche Petrelium Maschapey ) di Sengata dan banyak masyarakat Sengata yang dapat ditampung bekerja di B.P.M. tersebut dan telah melakukan pengeboran di daerah Sengata dan sekitarnya yaitu ST.1,2,3,4,5 dan 6, terakhir pada tahun 1945 waktu terjadi peristiwa Merah Putih dimana Sengata pada waktu itu telah dimasuki tentara Belanda kurang kebih 10 orang dan beberapa orang dari suku Timor dan keamanan dari pihak Indonesia kurang lebih 12 orang yang dipimpin oleh Arip ( orang berasal dari Kalsel ).

Pada tahun 1955 perusahaan perminyakan B.P.M tutup kembali dan pindah ke sanga-sanga, dan keadaan Sengata kembali sepi, dan pekerja rakyat hanya menebang kayu, membuat sirap dan adanya kehutanan / perhutani, sehingga pada waktu itu pencaharian rakyat Sengata bisa tertampung.

Pada tahun 1967 Kepala Kampung sengata dijabat oleh ABDUL RIFAI GANI, keadaan Sengata mulai ramai karena dengan masuk kembali perusahaan perminyakan pertamina, sebelum ini orang-orang kampung masih tinggal di Sengata I, ialah sengata ilir sekarang ini dan sesudah itu pindah lagi ke kampung Sengata II atau Masabang sekarang ini.

Dengan dibukanya perminyakan di Sengata, maka mulailah penduduk Sengata bertambah banyak, karena dengan datangnya orang dari luar daerah Sengata, karena bekerja di Sub Kontraktor Pertamina.

Pada tahun 1977 penduduk Sengata cukup padat yang pada waktu itu tercatat sebanyak 7.200 jiwa, dengan demikian keadaan cukup rawan karena sering terjadi beberapa perkelahian dan lain-lain.

Pada tahun 1972 pada saat Kepala Kampung dijabat M. PITAL B maka mulai saat itulah terjadi pergantian Kepala Kampung selama 5 tahun sekali dan berakhir pada tahun 1977, dan waktu itu diadakan pemilihan Kepala Kampung, tetapi berhubung sesuatu dan lain hal pemilihan terpaksa dibatalkan dan ditunjuk Wakil Kepala Kampung pada waktu itu sdra. ABDUL HAMID K sebagai Kepala Kampung, dengan Imam P.3.NTR di Sengata adalah sdra, ISMAIL M yang dijabatnya sejak tahun 1976.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *