MASUKNYA ISLAM DI KUTAI

H.A.Sultan Salehuddin II Sultan sekarang
H.A.Sultan Salehuddin II Sultan sekarang

Pada tahun 1525 kerajaan Kutai Kartanegara dirajai oleh keturunan ke enam bernama Sri Paduka Raja Makota mengantikan Raja Aji Pangeran Baya Baya yang sudah tua dan tak sanggub lagi memimpin kerajaan. Saat itu Raja dan rakyat Kerajaan Kutai masih memeluk agama Hindu dan Kaharingan. Apapun yang mereka anggap mendatangkan rejeki maka mereka melakukan sesembahan, dan menganggab adalah Dewa yang menyaru dengan berbagai kehendak.

Memang dalam agama Hindu kuno yang mereka anut adalah  beraliran dari India, yang percaya pada  banyak dewa-dewa serta pada sang maha Pencipta yaitu sanghiyang Widi (Tidak bersaudara, berayah, beribu dan tidak pula beranak atau diperanakkan ). Kepercayaan ini adalah kepercayaan dari orang pertama yang mendirikan kerajaan berketurunan dari Perabu Sanjaya dimana menurut cerita dari kerajaan Mataram Jawa.

Pada waktu itu Sang Maha Raja Aji Makota sedang berkumpul dengan para menteri pembantu-pembantunya membicarakan berbagai masalah negeri baik keamanan maupun kemakmuran rakyat. Saat itu kerajaan Kutai masih berkedudukan di “ Jaitan Layar “  Kutai lama.

Sidang berjalan sudah memasuki hari kedua dimana jika sidang dilaksanakan selesainya akan dilakukan pesta tahunan yang disebut “Erau”. Namun baru berjalan setengah hari sidang dilaksanakan, datanglah seorang ponggawa menghadap baginda Aji Makota melaporkan adanya sesuatu yang aneh terjadi di tepian dimana rakyat berkumpul menyaksikan kejadian tersebut. Dalam laporannya, si Ponggawa menaympaikan kalau ditepian ada dua orang aneh datang tidak dengan perahu tetapi datang dengan duduk diatas ikan Hiu Parang yang besar.

Kedua orang yang datang dengan menunggang ikan hiu parang tersebut berpakaiyan aneh. Keduanya memakai jubah berwana kuning dan hijau dengan ikat kepala beserban putih disertai pada bagian leher keduanya tergantung seuntai tasbih cukup panjang. Selain itu keduanya berkumis dan berjenggot lebat serta pandangan mata yang amat tajam.

Ikan Hiu Parang yang membawa kedua orang tersebut, sebelum singgah merepat ketepian terlebih dahulu berputar-putar sebanyak tujuh kali. Kedua orang ini lalu naik kedarat sambil mengatakan “ Allah Hu Akbar “ secara terus menerus yang ditelinga orang Kutai adalah ucapan dan kata yang cukup aneh dan tak dimengerti oleh mereka.

Keduanya menuju kebalai penghadapan dimana para menteri dan Raja sedang berkumpul. Sesampai didepan pintu balai penghadapan  keduanya lalu memberi salam dengan ucapan “ Assallamua’laikum Warahmattullah Hi wabarkatuh. “ Salam ini tak disahut oleh para hadirin yang ada .

Mereka hanya terkagum-kagum dan tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh kedua orang ini. Para Menteri dan Hulubalang siap dengan senjata untuk melindungi junjunganya Aji Makota yang juga terpana serta kagum melihat kedua orang aneh tersebut.

Namun begitu sampai kehadapan Raja, kedua orang ini lalu sujut bersalam sambil mencium tangan sang baginda, setelah itu mereka berdua duduk besimpuh. Keadaan tegang seketika berhenti ketika mereka melihat kedua orang ini sujut  dan bersimpuh menghadap raja mereka. Melihat demikian para Menteri dan Hulubalang kembali surut dan menyarungkan senjata mereka yang tadinya sudah pada terhunus.

aginda Raja Makota lalu bertanya kepada kedua orang tersebut. “ Siapakah Tuan berdua ini? dan Tuan datang dari mana? serta apa maksud dan tujuan tuan datang kehadapanku?“

Tuanku Tunggang Parangan ( Syekh Yusuf )
Tuanku Tunggang Parangan ( Syekh Yusuf )

oleh keduanya lalu memperkenalkan diri kalau mereka berdua masing masing bernama Tuan Tunggang Parangan  ( Syeh Yusuf ) dan Tuan  Dibandang, berasal dari negeri Minangkabau. Mereka berangkat dari Makassar, dengan satu tujuan yaitu mengajak pihak Raja dan Rakyat Kutai memeluk agama “Islam“ sebagaimana yang mereka lakukan di Makasar Sulawesi Selatan.

Mendengar ini Aji Makota bertanya. “ Apakah Agama Islam Itu? “Tuan Dibandang menyahut kalau Agama Islam adalah suatu Agama yang mengatur manusia dimuka bumi ini, untuk terhindar dari kesasatan. Serta menjadikan manusia itu mulia, hidup penuh kerukunan, kedamaian, serta saling kasih mengasihi.

Islam tidak mempercayai Dewa-Dewa yang setelah dibuat oleh manusia kemudian disembah-sembah. Kekuasaan Manusia atau dewa itu sangat terbatas, tetapi kalau kekuasaan Allah atau Tuhan amat luas dan tak terbatas.Tuan Tunggang Parangan berkata pula, Manusia itu bisa tua dan mati. Kalau sudah demikan yang ditinggal hanyalah nama dan perbuatan buruk atau baik.

Tetapi kekuasaan Allah tidaklah demikian. Apa saja yang dikehendaki Allah pastilah terjadi. Hidup mati manusia, jodo maupun rejeki, serta kemuliaan sebagaimana Maharaja sekarang ini adalah atas kehendaknya. Tetapi kalau dia menghendaki habis, maka semuanya tak dapat terhindar.

Raja Aji Makota jadi sedikit tersinggung dengan ucapan kedua orang ini yang seolah meremehkan dia selaku Raja yang bisa menentukan hidup matinya seseorang. Dengan berkata sedikit nada marah, dia berucap.

Apakah Tuhan Allah yang tuan maksut itu bisa menolong tuan, jika seandainya aku memerintahkan kepada para Panglima atau perajuritku memenggal kepala Tuan? “

Tuan Dibandang menyahut. “ Semua itu tergantung Allah, bila umur saya memang sampai, maka matilah saya ditangan prajurit Tuan. Tetapi jika tidak. Insya Allah saya akan terselamatkan”.

“ Begini saja, bagaimana kalau kita adu kesaktian, Yang pertama saya menghilang dan carilah saya. Yang kedua saya akan menciptakan api yang besar dan jika mampu tuan padamkan maka saya bersedia memeluk agama Islam yang Tuan bawa. “ Kata Raja Aji Makota. Tetapi kalau tak berhasil saya minta Tuan-tuan pergi meninggalkan Kutai.Mereka  sepakat  dengan perjanjian tersebut.

Maharaja Makota, tiba-tiba menghilang dari hadapan Tuan Dibandang dan Tuan Tunggang Parangan. Dengan tenangnya Tuan Tunggang Parangan bergeser duduknya kebelakang sebanyak tigablas geseran. Dia lalu berkata,         “ Saya ada dibelakang Tuan Baginda Raja. Lihat dan tampakkanlah diri tuanku”.

Benar saja Tuan Tunggang Parangan berada dibelakang Sang Raja yang kemudian terlihat Sang baginda Raja berdiri membelakangi Tuan Tunggang Parangan.

“ Selanjutnya mari kita ke Alun-alun “.  Kata Aji Makota sambil berjalan mendahului turun menuju alun-alun didepan balai penghadap. Disini Sang Raja berkata kepada seluruh rakyat Kutai yang hadir.

“ Ingatlah kalian semua, jika aku kalah, maka aku akan memeluk Agama Islam. Aku minta kalian juga harus demikian.” Kata Raja Mahkota kepada rakyat yang menyaksikan.

“ Nah.. hai Tuan Dibandang dan Tuan Tunggang Parangan. Bersiaplahlah!? “

Begitu habis berbicara tiba-tiba muncul api yang berkobar kian lama kian besar mengelilingi Tuan Dibandang dan Tuan Tunggang Parangan. Tuan Tunggang parangan melompat keluar dari api dan menjadi penonton dari pinggir lapangan. Tinggal Tuan Dibandang seorang diri dikepung kobaran api.

Tuan Dibandang lalu duduk sambil memejamkan mata dengan merapalkan sesuatu dari mulutnya. Tak lama kemudian Tuan Dibandang melakukan sembahyang dua rakaat dan setelah selesai dia mulai bezikir.

Sementara api kian membesar dan mendekatinya. Namun demikian Tuan Dibandang sedikitpun tak terlihat merasakan panasnya api yang berkobar kobar.

Tak lama setelah itu tiba-tiba hari mendung disertai petir bersahut sahutan. Hujan turun dengan lebatnya sampai air mengaramkan tanah setinggi lutut orang dewasa. Dengan demikian api yang berkobar menjadi padam karena direndam oleh air.

Dengan tenangnya Tuan Dibandang menoleh kearah Aji Makota sang Raja Kutai Kartanegara. Aji terlihat sangat kagum dengan kemampuan kedua tamunya itu. Diapun lalu mendatangi keduanya dan mengajak kembali memasuki balai penghadapan.

Disaksikan para Menteri Kerajaan, Aji Pangeran Makota membuat pernyataan kalau dia sejak itu memeluk Agama Islam dengan mengucapkan Dua Kalimah Syahadad. Hal ini lalu diikuti oleh para Menteri dan rakyat Kutai.

Untuk mendapatkan pelajaran tentang agama Islam, rakyat Kutai atas perintah Aji Makota lalu membangun mesjid sebagai tempat berkumpul bagi mereka yang sudah Islam untuk belajar berbagai kewajiban seorang Muslim.

Waktu berjalan hingga beberapa bulan. Tuan Dibandang meminta izin pergi ke Makasar untuk melanjutkan siar agama Islam keberbagai daerah Sulawesi. Sedanng Tuan Tunggang Parangan menetap di Kutai dengan kewajiban memberikan bimbingan tentang Islam kepada seluruh rakyat Kutai .- JBL

ALIT KUMPUT

Sumber : Johansyah Balham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *