Qoyidul ilma bi kitabah (Ikatlah ilmu degan buku/ mencatatnya)

BUKU

Daftarkan dirimu kepada sang waktu untuk hidup abadi dengan cara menulis buku, menulis. Itu adalah penjelmaanmu dalam bentuk kata kata tertulis. Engkau yg tampil dalam bentuk gagasan, perasaaan atau emosi. Itulah nyawa cadanganmu yg dapat memperpanjang umur sejarahmu. Tidak mengherankan mengapa seorang penulis lebih suka hidup melalui buku bukunya daripada di dalam tubuhnya.

Buku memang bukan segalanya, tetapi segalanya dapat dimulai darinya. Kata orang “buku adalah jendela dunia”, bahkan seluruh orang pandai dan bijak menyelesaikan urusannya dengan kita melalui buku. Menjadi apa kita tergantung apa yg kita baca.

Jika kamu ingin membangun kwalitas kemanusiaan atau mengenal dan membangun peradaban, bacalah buku. Sebab tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, ilmu pengetahuan macet, sastra bisu dan segala hal dirundung kegelapan.
Kita manusia memang satu satunya makhluk yg dapat bertukar gagas dan canda, pikiran dan pengalaman sejak diciptakan, sejak Tuhan mengajarkan Nama nama kepada Adam, seluruhnya. Namun perdaban kita juga baru belajar menulis beberapa ribu tahun lalu.

Sebuah buku adalah sebuah dunia ajaib penuh simbol yg menghidupkan si mati dan memberi hadiah yg kekal kepada yg masih hidup. Bukankah ajaib bahwa hanya 26 alfabet yg disusun dan dipadukan sedemikian rupa bisa memenuhi rak perpustakaan raksasa dan membawa kita ke sebuah dunia tak berujung? Fantastis bukan?
Buku adalah pundak para jenius. Dan jika saya mampu melihat jauh, itu disebabkan karena saya berdiri di pundak para jenius masa lalu.

Mari kita sadari, jika peradaban kita adalah peradaban buku buku, jalan hidup kita dipandu buku buku, dan kita menemukan nilai di dalam buku buku. Jika Tuhan termanifestasi dalam buku buku, lalu identitas kita terbentuk oleh buku buku, manakah mungkin kita akan jadi penghianat buku buku? Saya pernah katakan bahwa puisi dan buku tidak pernah melukai mereka yg berbudi baik.

Aduhai kawan, di dunia ini terdapat begitu banyak kalimat seperti banyaknya bintang bintang di langit sana. Dan kalimat kalimat akan selalu bertambah, beranak pinak dan aka semakin banyak sepanjang waktu laksana ruang yg tanpa batas. Sebab jika pun seluruh pohon di dunia di jadikan pena, dan semua lautan di jadikan tinta, tak akan habis habisnya ilmu Tuhan.
Aku membaca sebuah buku dan menemukan sepetak langit dari keseluruhan langit yg tak berbingkai. Sebuah kalimat baru yg kubaca membuatku lebih banyak tahu dibanding sebelumnya. Dan segala yg kubaca membuat duniaku dan diriku menjadi lebih besar dan luas. Dan aku tidak akan pernah bisa berhenti membaca.
“Iqra” di awal, juga sampai akhirnya. Bacalah!

Buku itu, bercerita tentang buku bambu untuk sampai kita memahami buku diri.
Buka buku, bacalah yg baka dan temui serta menyatulah dengan sifat sifat Tuhan kita. Iqra bismi Rabbik…!

 

e

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *